Terkini

Ayah Terpaksa Bawa Jenazah Anak Dengan Motorsikal Kerana...

Hampir keseluruh rakyat jelata seperti ditampar atas kisah seorang ayah yang terpaksa mendukung jenazah anaknya yang berumur kira kira 5 tahun karena tidak mampu untuk membayar ambulan. Kejadian ini berlaku di negara jiran. 'Suprianto' si pemungut sampah,hidup miskin dengan dua anak satu lelaki dan satu perempuan.


Ayah Terpaksa Bawa Jenazah Anak Dengan Motorsikal Kerana...

Menurut cerita, Suprianto bakal membawa jenazah anak kecilnya dari keramat ke bogor kampung pemulung.

Difahamkan anaknya Khaerunisa sudah 4 hari mengalami muntah muntah dan berak,dia telah membawa anaknya ke klinik untuk berubat,namun hanya sekali karena dia tidak mempunyai wang,apatah lagi untuk membawanya ke hospital,tentu ia akan memakan biaya yang lebih mahal.

“Saya hanya kerja sebagai pengutip kotak,botol pelastik yang hanya berpenghasilan Rp 10.000 (RM 3.00) sehari ujarnya.

Si ayah yang berharap anak kecilnya itu sembuh dengan sendirinya,selama Khaerunisa sakit,ia hanya di letakkan di grobak bapanya karena meraka tidak mempunyai rumah.

Kerana tidak kuasa melawan penyakitkan akhirnya gadis kecilnya itu selang beberapa hari sekitar jam 7 pagi,Khaerunisa Meninggal di pelukan bapanya di atas grobak disela sela kotak dan botol pelastik yang berbau.

Tidak ada yang tau,tidak ada yang peduli,hanya mereka ayah dan abang Khaerunisa muriski 6  tahun.

Wang disaku hanya Rp 6000 (RM 1.80) tak mungkin cukup untuk membeli kain kafan untuk membungkus mayat sikecil,jauh sekali untuk menyewa ambulan.

Si ayah dan anaknya Muriski menolak grobak itu sepanjang perjalanan untuk sampai ke stesenn krl yang menuju ke bogor berharap ada orang yang membantunya,pasalnya supriano mahukan jenazah anak kecilnya itu di makamkan di bogor tanah kelahiran meraka kampung pemulung berharap ada sedikit sumbangan dari rakan pemulung utuk biaya pemakaman anaknya

Waktu sudah menunjukkan jam 10,cahaya mata hari mulai panas ia kemudian membungkus anak kecilnya dengan kain batik usang yang di simpannya,kepala jenazah anaknya itu di biarkan terbuka sedikit dipeluk dengan erat,kemudian seorang pedagang menanyakan kenapa dengan anaknya.

Suprianto mengatakan bahwa anaknya itu sudah meninggal dan akan di bawa ke bogor kampung pemulung untuk di makamkan.Warga setempat langsung mengerumuni Suprianto,dan menyuruhnya membawa anaknya itu ke balai polis.

Suprianto meminta kepada polis agar mayat anaknya segera di makamkan di kampung pemulung namun,polis tidak langsung percaya dan meminta dia membuat surat izin pemindahan jenazah kepada RSCM.


Dia hanya bisa bersandar di tembok dinding balai polis untuk menunggu surat izin pemindahan jenazah itu Sambil memandangi jenazah anak kecilnya yang terbujur kaku.

Muriski yang masih tidak terlalu paham dengan apa yang menimpa adiknya,cuba membangunkannya dan mengajaknya bermain.

Waktu berjalan hingga jam 16.00 Surat izin dari daerah RSCM yang ditunggu tunggu akhirnya datang,Tapi dia tidak mempunyai wang untuk menyewa ambulan,supriano terpaksa berjalan kaki menolak gerobak yang berisi jenazah anaknya kira kira 10 kilometer, beberapa warga setempat memberikan sumbangan untuk membeli kain kafan.

Para Pedangan sekitar RSCM juga memberikan Makanan dan minuman,Tidak lama selepas itu seorang penunggang motorsikal dengan sukarela memberikan bantuan dan menghantar Suprianto menaiki motorsikal kebogor kampung pemulung,menurut cerita warga setempat.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena undang undang pemerintah saat ini membuat masyarakat sudah tidak lagi perduli terhadap sesama.

“Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.kejadian berlaku sekitar tahun 2011.
Untuk dapatkan makluman berita terkini, viral dan informasi berguna dari blog ini melalui Facebook, sila LIKE page kami:

No comments